Puskesmas Sabbang Selatan Gencarkan Pencegahan Stunting di Desa Kalotok, Walaupun di Mas Pandemi Covid-19

Masambanwes, Luwu Utara – Meskipun saat ini kita sedang berperang dengan situasi Pandemi Covid-19, saat membuka acara stunting sekaligus menjadi narasumber Pertemuan Sosialisasi upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pencegahan stunting di aula Kantor Desa Kalotok Kecamatan Sabbang Selatan Kabupaten Luwu Utara Sulawesi Selatan dan acara ini berlangsung tiga hari mulai hari ini 23 sampai 25 November 2020.

Hal ini disampaikan Kepala Puskesmas Sabbang Selatan Sudarmi Idrus, S.Kep pada media ini Kamis 26 November 2020 bahwa, saat ini Pandemi Covid-19 memang selalu membayangi setiap kegiatan. Akan tetapi itu bukan masalah bagi Dinas Kesehatan melalui Puskesmas serta layanan memberikan pelayanan terbaiknya.

“Kita harus menjalankan program posyandu dengan protokol kesehatan Covid-19. Ini sangatlah penting karena kesehatan masyarakat justru lebih utama. Apalagi untuk menciptakan generasi yang lebih baik demi Bangsa dan Negara ini,” ucap Sudarmi Idrus.

“Memang kalau dirunut dari pengertiannya, stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi,” jelasnya.

Faktor lingkungan lanjut Kepala Puskesmas Sabbang Selatan, berperan dalam menyebabkan perawakan pendek antara lain status gizi ibu, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi di awal kehidupan seorang anak. Asap rokok juga sangat berbahaya bagi perkembangan janin. Selain faktor lingkungan, juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi.

“Jika gizi tidak dicukupi dengan baik, dampak yang ditimbulkan memiliki efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Gejala stunting jangka pendek meliputi hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, perkembangan otak yang tidak maksimal yang dapat mempengaruhi kemampuan mental dan belajar tidak maksimal, serta prestasi belajar yang buruk. Sedangkan gejala jangka panjang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis,” terang Sudarmi.

Selanjutnya tegas Kapus Sabbang Selatan, ada beberapa antisipasi untuk mencegah stunting di lapangan, yaitu melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur. “Nah disinilah tugas dari layanan memberikan pelayanan maksimal,” ungkapnya lagi, dan biaya selama tiga kegiatan berlangsung dari Dana Desa Kalotok.

Di sisi lain, Sudarmi Idrus menambahkan, fungsi petugas di layanan adalah memberikan informasi kepada ibu hamil serta pasangannya agar memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan antara lain dengan menu sehat seimbang, asupan zat besi, asam folat, yodium yang cukup. Juga melakukan kunjungan teratur ke Posyandu.

Diungkapkan bahwa sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri no.18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa, maka diwajibkan kepada pemerintah daerah untuk memberdayakan LKD yang ada di wilayahnya termasuk Posyandu.

Hal ini termasuk dalam penganggaran kegiatan dapat dianggarkan dari APBDes maupun dari dana desa. Sesuai dengan Permendagri 19 tahun 2011, maka perlu dilakukan pengintegrasian layanan social dasar di Posyandu dengan melibatkan berbagai unsur dalam upaya peningkatan ekonomi keluarga, kesehatan lansia, BKB, Pos PAUD dan sebagainya.(yus)