KPU Luwu Utara Gelar Simulasi Pilkada 2020 dengan Protokol Kesehatan Ketat

Masambanews, Luwu Utara — Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Luwu Utara menggelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara, serta penggunaan Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) di tingkat Tempat Pemungutan Suara (TPS) dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020.

Dalam simulasi itu banyak adegan yang diperagakan. Antara lain, pemeragaan pemilihan di TPS yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Bahkan dalam simulasi digambarkan bagaimana jika ada pemilih yang sakit atau tiba-tiba pingsan.

Bagaimana langkah petugas di lapangan untuk menangani.

Simulasi pemilihan yang bertempat di Lapangan Taman siswa Masamba itu melibatkan PPK dan petugas KPPS dari seluruh Kecamatan. Yang ada diwilayah Luwu Utara

Simulasi dimulai saat petugas ketertiban menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruangan TPS.

Kemudian ketua KPPS melakukan pengecekan dan disaksikan seluruh anggota dan saksi.

Kemudian pemilih memasuki TPS dengan mencuci tangan dan melakukan pengecekan suhu tubuh.

Lalu pemilih dengan membawa form C pemberitahuan menandatangani daftar hadir.
Namun sebelum itu pemilih memakai sarung tangan sekali pakai. Tujuannya menghindari kontak fisik.

Setelah mendaftar, pemilih lalu mencoblos ke bilik yang telah disediakan.
Setelah mencoblos, kemudian pemilih akan di berikan tanda berupa teteskan tinta hitam.

Lalu petugas akan meminta sarung tangan sekali pakai itu dilepas di tempat sampah.

Ketua KPU Luwu Utara Drs.  Syamsul Bahri mengatakan simulasi ini mengedukasi petugas penyelenggara bagaimana situasi pemilihan di tengah pandemi.

Hal ini agar ketika terjun di lapangan mereka sebelumnya punya gambaran apa yang harus dilakukan jika ada masalah.

“Sebenarnya tidak ada yang membedakan pemilihan di tengah pandemi atau tidak. Hanya saja kali ini dibarengi dengan protokol kesehatan yang ketat,” ucapnya, Sabtu (21/11/2020).

Ada banyak reka adegan kemungkinan yang terjadi di lapangan.

Seperti, ketika ada pemilih pingsan maka petugas harus memakai baju hazmat dan melakukan pertolongan pertama.

Juga diperagakan jika ada pemilih yang bersuhu tinggi, maka yang bersangkutan diarahkan memilih ke bilik khusus.

“Begitu juga saat ada pemilih difabel yang meminta pendampingan maka petugas di lapangan dalam hal ini KPPS, harus membantu,” jelas Syamsul Bahri .

“Yang membedakan lagi dari pemilihan sebelumnya selain protokol kesehatan adalah pengunaan Sirekap. Aplikasi ini baru digunakan dan sudah diuji coba,” pungkasnya.(am**).