KNPI Torut Hibur Anak di Pengungsian Banjir Bandang, dengan Film Layar Tancap, bersama PPGT dan SMGT

Masambanews, Luwu Utara РDari mulai tanggal 29 sampai 31 Juli kemarin, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Toraja Utara (Torut) Sulawesi Selatan (Sulsel), mengunjungi  anak-anak korban bencana banjir bandang lumpur dan tanah longsor Luwu Utara (Lutra).

Dalam kunjungan itu, kata Belo Tarran, Ketua KNPI Toraja Utara (Torut), Sabtu (1/8/2020) kami bekerjasama dengan Toraja Film Festival untuk menghibur anak-anak korban bencana atau kata krennya trauma healing dengan pemutaran film layar tancap dan bersama sejumlah relawan dari Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) dan Sekolah Minggu Gereja Toraja (SMGT) untuk menghibur sejumlah anak-anak korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di tenda pengungsian Petambua Desa Meli dan Radda Kecamatan Baebunta.

KNPI Torut mendatangkan langsung mobil bioskop dari Toraja, dan trauma healing ini kami tetap memperhatikan protokol kesehatan di masa pandemi virus corona.

“Belo Tarran yang juga Presiden Toraja Film Festival mengatakan, bencana banjir bandang lumpur dan tanah longsor yang terjadi di Bumi Lamaranginang julukan Kabupaten Lutra dan beberapa Kecamatan sekitarnya, dan jangan sampai menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak-anak berkepanjangan,” ucap Belo Tarran pada media ini, Sabtu (1/8/2020) malam melalui via jejaring WhatsApp.

Menurut Ketua DPD KNPI Toraja Utara, anak dengan pengalaman trauma saat bencana banjir bandang lumpur di malam hari yang mengguncang jiwanya akan berdampak buruk pada kepribadian dan potensi yang dimiliki di masa depan kelak.

“Kepribadian itu misalnya kurang percaya diri, cepat marah, mudah meledak-ledak secara negatif, penuh dengan masalah, tidak bisa bekerja sama, tidak percaya pada orang, dan potensi-potensinya yang baik juga akan redup,” tutur Belo Tarran menjelaskan, seraya menambahkan bahwa film yang kami putar di tenda-tenda pengungsian adalah film yang pernah di kompetisikan di Toraja Film Festival dan disesuaikan kondisi pengungsi dan ada juga film dari Pusbang Film.

Belo Tarran menerangkan, bahwa anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang paling mudah terkena trauma saat terjadi bencana, namun juga paling cepat untuk kembali pulih bila ditangani dengan tepat. 

Dan oleh sebab itu, Belo berpendapat pentingnya penanganan pemulihan trauma kepada anak-anak pasca bencana untuk membuat mereka tetap bahagia, lupa akan kesedihannya, dan membuat kondisinya menjadi normal.(yustus)