Harga Sawit Terendah di Indonesia di Lutra Maret Hanya Naik Rp.30 Ribu

banner 468x60)

Masambanews, Luwu Utara – Harga Kelapa Sawit atau Tandan Buah Segar (TBS) ditetapkan Tim penetapan harga bulan maret 2019 masih memiriskan. Bagimana tidak, sesuai informasi yang diterimah dari Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Luwu Utara (Lutra), harga TBS bulan Maret hanya naik Rp.30 rupiah dari Rp.760 per kilogram menjadi Rp.790 per kilogram.

Harga tersebut diakui masih terendah se Sulawesi bahkan se Indonesia, dimana harga di tingkat provinsi tetangga yakni Sulawesi Tengah (Sulteng) tembus Rp900 per kilogram sementara harga di Sulawesi Barat (Sulbar) jauh lebih besar lagi yakni Rp1.040 per kilogram.

“Kita sudah mengusulkan agar ada kenaikan minimal Rp800 atau setidaknya Rp40, tapi yang ditetapkan hanya kenaikan 30 rupiah atau 790 rupiah,” kata Ketua Apkasindo Lutra, Rafiuddin, pada media ini, Senin, 18/3/2019. Maret 2019.

Menurutnya, kelemahan Lutra ada pada harga selalu terendah karena dalam penetapan harga TBS, Lutra belum berpedoman pada Peraturan Gubernur (Pergub) karena memang Gubenur belum mengeluarkan aturan itu sebagaimana di daerah lain.

“Tapi kita bersama Apksindo Provinsi sudah mengusulkan adanya Pergub, bahkan drafnya sudah ada dan tinggal menunggu ditanda tangani oleh Pak Gubernur,” beber Rafiuddin.

Sementara itu, Ketua Forum Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ForkSBI) Lutra, Tauhid SE MM, mengatakan harga Kelapa Sawit tingkat Provinsi Sulawesi Selatan masih bisa naik, sebab harga di Provinsi tetangga sudah diangka Rp1000 per kilogram.

Kalau harga seperti ini, dirinya belum berpihak kepada Petani sawit tetapi sebaliknya pengusaha yang diuntungkan.

“Kalau melihat harga saat ini petani masih berada di pihak yang rugi, semestinya pemerintah memikirkan itu, bagaimana harga bisa saling menguntungkan,” jelasnya.

Senada juga disampaikan, Mahmuddin salah seorang Petani Sawit di Lutra, dirinya tidak puas dengan kenaikan harga yang hanya Rp30, disisi lain harga di Provinsi tetangga sudah diangka Rp1000 per kg.

Ia juga mengeluhkan harga sawit jika mengalami penurunan sangat drastis mencapai Rp100 hingga Rp150 tapi apabila kalau kenaikan hanya Rp10 sampai Rp30, sama halnya bohong.

“Ini kekecewaan kita kepada pemerintah dimana jika turun sangat besar bisa mencapai 100 rupiah padahal disini perintah yang terlibat dalam perumusan harga, ini tidak berpihak kepada petani ada apa pemerintah berpihak kepada pengusaha bermodal alias punya segalanya galanya,” tuturnya.(yustus).

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply