Mukhlis Waspada Hutan Gundul Penyebab Banjir, Ini Komentar LSM Waslit

banner 468x60)

MasambaNews, Luwu Utara, – Dari segi ekosistim, kerusakan hu tan yang ada di Hulu Sungai Salu ampak serta hutan DAS Rongkong di Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara Sulsel dan sekitarnya, menjadi penyebab terjadinya musibah banjir di Desa Mari-Mari dan Desa Desa yang ada di sekitar DAS Rongkong, Sungai Rongkong, setiap hujan turun dikawasan itu masyarakat selalu was-was.

Hal ini dikemukakan Mukhlis sekretaris LSM Wahana Advokasi Lingkungan Terpadu (WASLIT), di Kecamatan Sabbang, pada media ini, Selasa, 19/6/2018.

Namun kalau kita melihat aspek hukum, banjir terjadi karena penebangan hutan secara liar terus berlangsung dan tidak ada penanaman kayu kembali.Dan masyarakat sekitar hulu sungai menebang kayu dan juga menanami tanaman kakao dengan sistem monokultur, merica dengan menggunakan tajuk atau ajir kayu mati dan juga tempat berkebun tanaman jangka pendek, serta penggunaan zat kimia utamanya herbisida secara berlebihan ini semua mempengaruhi banjir setiap tahunnya kiriman dari Sungai Rongkong dan sungai Mari-Mari.

” Dan juga Polisi Kehutanan atau penyuluh kehutanan tak banyak berbuat, kayaknya membiarkan hal ini terjadi, buktinya masih banyak kayu dari hutan yang diangkut mobil. Yang mengherankan juga karena sampai saat ini, pemerintah sepertinya tidak berkutik menghadapi para perampok hutan di Luwu Utara, ada apa yah?,” tutur Mukhlis.

” Secara teori, akibat hutan yang gundul akan menyebabkan air hujan yang turun di hulu hutan menjadi tidak tertahan dan langsung menerjang dataran rendah yang banyak dihuni manusia, sedangkan dimusim kemarau, tidak ada lagi persediaan air, karena air hujan tidak tertampung sehingga menyebabkan tanah menjadi tandus dan manusia pun kesulitan memperoleh air,” begitu Mukhlis sekretaris LSM WASLIT (Wahana Advokasi Lingkungan Terpadu) berteori.

Itulah narasi terjadinya musibah banjir yang sudah menjadi laten di kecamatan Sabbang dan juga di Desa Mari-Mari terkhusus di Bumi Lamaranginang sebutan atau julukan Luwu Utara.

” Memang akibat kerusakan alam, tapi manusia yang menyebabkan alam ini rusak, ” ucap Mukhlis.

Melihat kondisi itu, yang mana rusaknya lingkungan di Luwu Utara akan sulit sekali merehabilitasinya, ini perlu waktu lama memperbaikinya, kalaupun warga menyadari bencana banjir setiap tahunnya, tidak lagi merampok kayu di hutan.

” Kami pihak anggota LSM Waslit Luwu Utara, mengimbau perlunya masyarakat dan pemuda mengambil peran dalam gerakan pencegahan kerusakan lingkungan dan gerakan rehabilitasi lahan dan hutan,” imbau Anggota LSM Waslit Luwu Utara.

” Menurut Mukhlis dibutuhkan pemikiran dan tindakan nyata dari semua stakeholder untuk menyelamatkan lingkungan, agar kita dan generasi mendatang bisa terhindar dari bencana alam seperti banjir dan apa yang telah dilakukan Dinas Lingkungan Hidup selama ini?,” tantang Mukhlis pada Dinas tersebut.(yustus)

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply