Hendrik Sumarre Dalam Perjalanannya Menjadi Imam

banner 468x60)

Hendrik Sumarre Dalam Perjalanannya Menjadi Imam

MasambaNews. Luwu Utara, — Setelah pentahbisannya tanggal 14 April lalu di Pineleng Sulawesi Utara, Pastor/Imam Hendrik, demikian panggilan akrab im am itu, membuat Misa Perdana di tempat kampungnya Stasi Santo Paulus Rante Bone Kecamatan Sabbang Kabupaten Luwu Utara Sulsel.
Di sana, mayoritas keluarganya beragama Protestan. Akan tetapi, dengan penuh syukur dia disambut dan diarak oleh keluarga Protestan. Di sana juga imam baru itu mengadakan Misa Perdana dalam minggu panggilan se dunia.

Dalam rangkaian Misa Perdana di Tana kampung kelahirannya Rante Bone Desa Buangin, titik awal karya para Misionaris Hati Kudus Yesus di Indonesia dan juga kampung halaman Bapak Ibunya, Pastor Hendrik Sumarre MSC disambut di Desa Buangin Dusun Rante Bone dan diarak dari rumah kediaman orang tuanya dan dimeriahkan dengan Drum Band SMA Frater Palopo.

Umat mendoakan agar panggilan imamatnya berjalan sampai pada akhir, sebuah simbol kerukunan masyarakat yang berarti saling memiliki, meskipun berbeda.

Dalam sambutannya Pastor Hendrik Sumarre MSC, menegaskan bahwa dia lahir dari keluarga yang didalamnya terdapat perbedaan agama, tetapi mereka tidak menjadikan perbedaan itu sebagai suatu masalah.

“Saya yakin bahwa iman yang saya dan ibunda bapak saya pilih dapat menjadi jalan untuk kami masuk surga, begitu pun iman yang ayahanda banyak Protestan dan satu saudara saya juga Protestan serta semua keluarga dan umat pilih menjadi jaminan mereka untuk masuk surga, maka mereka semua akan masuk surga, sebab sebenarnya imanlah yang menyelamatkan kita.”

” Dia juga mengaku sebagai anggota Pencak Silat THS-THM Ranting Saluampak Wilayah Luwu yang mendorong saya dan menempa saya untuk melangkahkan kaki masuk Seminari Pineleng hingga jadi Pastor sekarang,” akunya.

Pastor Hendrik Sumarre MSC mengawali panggilannya dengan masuk Seminari menengah makassar kemudian ke Pineleng Sulawesi Utara .Dan Theologi Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng.

Ketika menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Ave Maria Tanjung Kalimantan Selatan, bersama pastor-paroki dan suster-suster dia melayani sebuah desa di pedalaman. Suatu pagi, setelah Misa, cerita imam itu, mereka melaksanakan pengobatan masyarakat setempat. Ketika menerima obat-obatan yang dibawa oleh pastor dan suster, umat mengatakan “Mama suster, mama suster punya obat, boleh baru kasih saja sudah sembuh, tidak sama dengan bapa dokter punya, kami minum tapi tidak ada perubahan.” Padahal obat itu obat dari dokter yang mereka tolak.

Pastor Hendrik Sumarre, yang menjalani masa diakon di daerah Sambiut Sulawesi Tengah, lalu mengambil kesimpulan, karena iman kita diselamatkan dan bahwa masyarakat masih membutuhkan pastor.(yustus)

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply