Bumi Lamaranginan Jadi Tuan Rumah Manre Saperra Dan Festival Kuliner Sagu.

banner 468x60)

Bumi Lamaranginang Tuan Rumah Manre Saperra & Festival Kuliner Sagu

MasambaNewsLutra, – Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Luwu Utara yang mana julukan Bumi Lamaranginang yang pernah juga Camat Sabbang, Magfirani Nassa mengatakan Lantang-lantang(pondok-pindok), tempat sajian makanan khas to Luwu, ini akan disiapkan sepanjang kurang lebih 1 km diisi dengan makanan-makanan tradisionil yang dikumpul dari prosesi Massorong Rakki, merupakan hasil tangkapan nelayan, hasil perkebunan dan hasil pertanian yang kemudian dibuat berbagai jenis makanan khas tradisionil yang disajikan diatas rakki rakki tadi, untuk selanjutnya disantap secara bersama-sama oleh para tamu dan seluruh pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat.

” Nah, pesta adat ini, Manre Saperra lanjut Magfirani melalui Kadis Kebudayaan Parawisata Lutra, menunjukkan sikap masyarakat Luwu Utara yang menjunjung tinggi rasa kebersamaan, kegotong royongan dan toleransi umat beragama yang sampai saat ini, masih terpatri dihati sanubari mereka. Sepanjang hari pengunjung dihibur dengan tari-tarian tradisionil dan permainan rakyat,” ujarnya.

” Setiap tahun juga, ” Hari Jadi Luwu Utara diperingati dan merupakan juga event tahunan dalam rangka mengekspose keberhasilan yang telah dicapai, dengan contoh melalui pameran pembangunan, Festival Kuliner Sagu, atraksi wisata yang ditampilkan pada kegiatan-kegiatan ini seperti Dialog Budaya, pagelaran seni dan budaya Mappadendang, musik tradisionil dan permainan rakyat.
Event- event ini bisa dilaksanakan kembali, pada hari jadi Luwu Utara,” usulnya.

Dalam event Maccera yang biasa dilaksanakan dipesisir pantai Desa Tokke Kecamatan Malangke Kabupaten Luwu Utara Sulsel dan di Desa Munte Kecamatan Tana Lili, ini masih kategori perintisan,” ungkapnya.

” Magfirani Nassa mengatakan Maccera merupakan warisan budaya leluhur masyarakat pesisir pantai yang mengandung makna spiritual yang tinggi. Pesta adat ini masih dilestarikan oleh masyarakat pesisir, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas hasil laut dan hasil panen yang melimpah sebagai sumber kehidupan mereka,” ungkapnya.

Maccera diawali dengan prosesi Massappo wanua(menghubungkan silaturahim), kata mantan Camat Sabbang. Kemudian prosesi Mantre Padang (pesta panen), lalu dilanjutkan dengan ritual maccera tasik(memberi makanan dilaut), dan dengan menampakkan berbagai atraksi seni budaya di Lutra antara lain yakni, menghias perahu nelayan, tari penjemputan tamu, tari nelayan, permainan rakyat dan iring-iringan perahu membawa berbagai jenis makanan tradisionil hasil laut dan panen rakyat, kenang Magfirani.

Magfirani mengenang yang lalu, bahwa kegiatan ritual, budaya maccera secara spontan dilaksanakan dengan gotong royong baik masyarakat petani maupun nelayan bersatu padu mengambil bahagian dalam rangka mempersembahkan hasilnya untuk kegiatan pesta yang disebut, ” Mappa duppa Hassele'(mempertemukan hasil) untuk disantap secara bersama-sama,” tutupnya.(yustus)

banner 468x60)

Related Post

banner 468x60)

Leave a reply